|
Sejarah pemakaman kremasi
di Jepang
Pendahuluan
Menurut kamus bahasa Indonesia, makam atau kuburan adalah tanah
tempat menguburkan mayat atau orang yang sudah meninggal. Tapi
kalau kita membahas tentang makam di negara Jepang difinisi ini
sama sekali tidak tepat karena makam di sana hanya menyimpan abu
sisa kremasi belaka. Pemakaman di negara tersebut hampir seluruhnya
menggunakan metode kremasi atau dibakar bukan dikubur dan pemakaman
model konvensional ini dalam arti dikubur hampir tidak ditemukan
lagi.
Sebelumnya saya beranggapan metode kremasi dilakukan karena alasan
agama (Buddha) yang dipercaya banyak dianut oleh penduduk negara
tersebut. Sekali lagi pendapat itu kurang tepat karena kremasi
bukan dilakukan karena alasan agama namun lebih banyak karena
alasan lain. Bagimana dengan warga pemeluk agama yang melarang
pemakaman kremasi seperti Kristen atau Islam misalnya. Nah, disinilah
salah satu letak keunikan dari pemakaman di Jepang yang selengkapnya
akan saya tulis di bawah ini.
Kremasi bukan budaya Jepang
Sejarah
memang mencatat bahwa pemakaman cara kremasi yang dilakukan di
Jepang tidak bisa lepas dari pengaruh agama Buddha yang mulai
masuk ke Jepang sekitar abad di 7. Sebelum masuknya agama Buddha,
pemakaman dilakukan dengan cara yang umum dilakukan oleh masyarakat
di belahan negara lain yaitu dikubur di dalam tanah (burial).
Beberapa makam kuno yang bisa dicatat adalah makam yang terbuat
dari batu sepanjang 7 meter yang dibangun sekitar 230 dan 200
BC di daerah Nara yang dikenal dengan nama Hokenoyama tomb. Kemudian
yang lebih fenomenal lagi adalah makam kaisar Nintoku
seluas 486 meter berbentuk lubang kunci. Sedangkan areal makam
itu sendiri menempati lahan seluas 300.000 meter persegi.
Namun jauh setelah agama Buddha diterima secara luas, pemakaman
kremasi tetap belum populer. Pada masa itu kremasi hanya dijalankan
secara terbatas pada golongan pendeta Buddha dan kaum (onboo)
yaitu aristokrat atau golongan pejabat tinggi saja. Hal itu memungkinkan
karena agama Buddha yang berkembang di Jepang saat itu mengenal
empat cara pemakaman yaitu :
- Dosō atau ditanam di
tanah ( earth burial )
- Suisō atau dihanyutkan
ke air ( water burial )
- Fusō atau di letakkan
di alam terbuka ( exposure in the wild atau wind burial ) dan
- Kasō atau dibakar (
cremation ).
Kemudian pemakaman kremasi mulai diterima dengan lebih luas
karena pengaruh dari sekolah Buddha sekte Jōdō
Shinshū atau Pure Land
yang didirikan oleh Shinran (1173-1262). Sampai masa perang akhir
perang dunia kedua, hampir setengah prosesi pemakaman yang dilakukan
menggunakan cara kremasi dan sebagian lagi masih menggunakan cara
lama yaitu ditanam.
Kelompok Anti Kremasi
Pemakaman cara kremasi yang mulai populer dilakukan oleh masyarakat
luas, tidak terbatas pada golongan tertentu saja, tidak ayal menimbulkan
perdebatan dan kontroversi yang pelik antara pendukung dan yang
menentang kremasi. Kremasi diangap sebagai "Evil customs
of the past" atau pengaruh agama luar (Buddha) sehingga dilarang
untuk dilakukan di beberapa daerah. Pada jaman Tokugawa. (1603-1868)
kelompok anti kremasi bertambah banyak yang dipelopori oleh pengikut
atau murid ajaran Confucianism.
Mereka saat itu mempunyai pengaruh yang sangat besar, sangat aktif
melobi orang pemerintahan dan juga pihak istana. Usaha kelompok
ini sepertinya cukup berhasil karena banyak penguasa daerah saat
itu mengeluarkan aturan yaitu melarang pelaksanaaan kremasi di
daerahnya.
Dilarang dan kemudian di dukung
Pada jaman Reformasi Meiji atau tepatnya sekitar tahun 1875,
pemerintah secara resmi melarang pelaksanaan kremasi karena tindakan
membakar orang yang sudah menginggal dianggap bisa merusak moral
masyarakat (throwing bodies into fire was disrespectful to the
dead) dan yang kedua asap pembakaran bisa merusak kesehatan publik
( the foul smoke produced by burning corpses was dangerous to
public health). Aturan pelarangan ini berlaku pada semua orang
termasuk golongan pendeta dan juga golongan kelas atas (Onboo).
(Dikutip dari google book)
Upacara kremasi memang menimbulkan dilema yang sangat pelik di
Jepang saat itu. Di satu sisi, pemakaman kremasi merupakan satu
solusi yang effektif dalam mengatasi penyempitan lahan namun di
lain hal pemakaman kremasi juga menimbulkan masalah terutama asap
pembakaran yang dianggap mengganggu kesehatan. Areal tempat pemakaman
yang dulu dibangun jauh dari perumahan penduduk, namun karena
perluasan kota akhirnya pemukiman baru mulai dibangun berdekatan
atau bahkan bersebelahan dengan areal pemakaman. Hal ini tentu
saja aktivitas kremasi akan menimbulkan dilema pada penduduk sekitarnya.
Beberapa tahun kemudian, larangan kremasi akhirnya dicabut. Salah
satu alasan terpenting dari pencabutan larangan ini adalah telah
ditemukannya teknologi kremasi yang semakin modern sehingga alasan
polusi yang dikeluhkan selama ini bisa diatasi. Sejak itu, pemakaman
kremasi mulai menjadi pilihan bagi kebanyakan orang. Kebetulan
pada saat itu Jepang sedang gencar gencarnya melakukan modernisasi
dalam segala bidang seperti teknologi, pendidikan dan sistem perundang
undangan dan beralih dari sistem pemerintahan tradisional ke modern
Berbiara tentang modernisasi tentu tidak lepas dari pengaruh
Eropa dan Amerika yang merupakan kiblat dari modernisasi Jepang.
Sebelumnya negara Eropa juga pernah mengalami masalah yang sama
namun secara bertahap masalah ini mulai teratasi setelah diterapkannya
sistem pembakaran kremasi. Dari sinilah Jepang mulai belajar menerapkan
sistem teknologi dan managemen pemakaman modern.
Alasan pemakaman kremasi populer di Jepang
Pemakaman kremasi, seperti yang telah saya sebutkan diawal, dilakukan
bukan karena alasan agama namun lebih banyak karena faktor lain
diluar agama yang salah satunya adalah karena peraturan dan perijinan.
Pemakaman kremasi hampir bisa dikatakan wajib diterapkan pada
setiap pemakaman dan diatur oleh undang undang. Hal ini disebabkan
karena pemakaman kremasi dianggap sebagi solusi terbaik mengatasi
masalah sanitasi atau kesehatan, menjaga kebersihan air tanah
serta alasan klasik pada setiap negara maju yaitu penyempitan
lahan. Alasan inilah yang mungkin membuat aturan tentang pemakaman
diatur secara ketat dengan undang undang. Kemudian bagi masyarakat
umum, pemakaman kremasi dari segi biaya dianggap sebagai cara
paling murah dibandingkan dengan cara pemakaman bentuk lain. Pemakaman
konvensional dalam arti di kubur selain sangat mahal juga disebabkan
tempat makam yang sudah tidak tersedia lagi.
Namun perlu dicatat disini semurah murahnya harga di Jepang tetap
saja sangat mahal kalau dibandingkan dengan di negara lain. Harga
standar rata rata untuk biaya pemakaman di negara tersebut adalah
sekitar 4juta yen, yang kalau di rupiahkan dengan kurs 100 yen
akan menjadi sekitar 400 jutaan rupiah. Jadi kalau seandinya memakai
cara penguburan konvensional, dalam arti di taman tentu akan lebih
mahal lagi karena selain memerlukan lahan yang lebih luas juga
masalah perizinan yang cukup pelik.
Satu keluarga cukup satu makam
Umumnya tiap keluarga hanya memeiliki satu makam saja dalam arti
satu nisan "dihuni" oleh semua anggota keluarga dan
terus berlanjut untuk keturunan berikutnya yang biasanya dilanjutkan
oleh anak laki laki tertua. Model pemakaman seperti ini tentu
saja cukup unik karena menghemat penyempitan lahan. Sedangkan
untuk anggota keluarga lain biasanya akan membuat makam baru.
Satu hal unik yang bisa dicatat disini adalah tentang nama pada
batu nisan. Umumnya pada nisan tertulis nama mereka yang meninggal,
namun pada makam baru, khususnya yang didirikan untuk satu keluarga
akan tertulis juga anggota keluarga lainnya yang masih hidup.
Untuk membedakan dengan mereka yang telah menginggal, maka nama
yang terukir biasanya berwarna merah dan akan dihapus (warnanya)
ketika yang bersangkutan saat meninggal nanti.
Kremasi dewasa ini
Saat ini pemakaman kremasi diterima dan dijalankan oleh sebagian
besar penduduk Jepang hampir tanpa ada penolakan sama sekali.
Data dari statistik tahun 2005 menyebutkan dari semua upacara
pemakaman yang ada 99.82% menggunakan cara kremasi. . Sedikit
perbandingan untuk negara lain adalah UK - 70.70%, USA - 27.12%,
Italy - 6.62%, Ireland - 5.40% (estimate only, data sumber tidak
tercatat). Aturan pemakaman kremasi sama sekali tidak ada kaitannya
dengan agama karena dari semua pelaksanaan kremasi di negara tersebut
hanya 91% yang menggunakan ritual Buddha sedangkan sisanya menggunakan
ritual kepercayaan lain.
Bagaimana dengan pemeluk agama lain ? Penganut agama Kristen
yang yang sangat dominan ditemukan di pulau Kyushu atau wilayah
Nagasaki sepertinya tidak ada masalah yang berarti karena hampir
semua pemakaman cara Kristen juga menggunakan sistem pemakaman
kremasi. Perbedaannya hanyalah pada ritual dan bentuk makam. Sedangkan
untuk pemeluk agama Islam di Jepang sepertinya adalah perkecualian
karena masih diijinknan untuk melakukan pemakaman konvensional
(dikubur). Setahu saya agama Islam mempunyai pengikut relatif
sangat kecil dan disamping itu kebanyakan pemeluknya adalah orang
asing.
Saat ini proses pendirian kuburan baru dengan sistem burial
sepertinya tidaklah mudah. Semua tempat pemakaman model lama (burial)
yang masih tersisa dipindah dan di tata ulang dan sepertinya kuburan
yang masih menerapkan sistem lama dan konvensional yaitu burial
hampir sudah tidak ditemukan lagi di negara tersebut.
Semoga bermanfaat
Ditulis oleh : nyoman ardika
Osaka 02 Agustus 2009
(Edit terakhir : 20 Agustus 2009)
REFFERENSI :
http://en.wikipedia.org/wiki/Cremation
Encyclopedia
of Cremation, Google book
http://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_funeral
Bermingham, Eduard J (1881) The Disposal of the Dead : A Plea
for Cremation, New york Bermingham and Co
Bernstein, Andrew (1999) The Modernization of Dead in Impereal
Japan,
Bernstein, ANdrew (2000) Fire and Earth : The Forging of Modern
Cremation in Meiji Japan, Japanese Journal of Religious Studies
De Groot, JJM (1967) The Religious System of China
Saito Tadashi (1987) Higashi Ajia Soo, bosei no kenkyuu
Shiroshi, Sakatani (1976) Meiroku zasshi: Journal fo the Japanese
Enlightenment
| VOCABULARY : |
| Upacara kematian |
O Soushiki |
‚¨‘’Ž® |
|
| kremasi |
kasou |
‰Î‘’ |
|
| dikubur |
maisou suru |
–„‘’‚· ‚é
|
|
| kuburan (burial) |
bochi |
•æ’n |
|
| kuburan Jepang |
o haka |
‚¨•æ |
|
| kuburan umum |
kyoudou bochi |
‹¤“¯•æ’n |
|
| public health |
kousyuu eisei |
ŒöO‰q¶ |
|
|