( Sumber photo : amazone.jp )

 

Islam di Jepang

 

Membicarakan tentang agama, memang rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas agama Islam di dalamnya, tidak terkecuali juga untuk negara Jepang. Walaupun sebenarnya artikel tentang Islam di Jepang sudah terlalu banyak namun karena cukup sering ditanyakan, maka dengan segala keterbatasaanya artikel ini saya coba susun. Hampir seluruh isi dari tulisan ini adalah saduran dan rangkuman dari berbagi sumber, jadi tulisan ini tidak lebih dari pengulangan saja sehingga sepertinya tidak banyak informasi ataupun hal baru yang bisa Anda didapatkan didalamnya. Namun harapannya tetap semoga masih ada manfaatnya.

 

Sejarah kedatangan Islam di Jepang

Menurut tulisan yang saya kutip dari ceramah salah seorang wakil duta besar Jepang untuk Indonesia yang berjudul "Hubungan Islam dengan Jepang", menyebutkan bahwa agama Islam mulai masuk ke Jepang diperkirakan sekitar zaman Restorasi Meiji (1867), ditandai dengan masuknya literatur literatur mengenai Islam yang berasal dari Eropa atau China, mulai diterjemahkan dan masuk ke Jepang.

Berikut saya kutip isi artikel di atas lebih lengkap : [" Kemudian, pada tahun 1890 (seribu depalan ratus sembilan puluh), terjadi sebuah peristiwa yang mempertemukan Jepang dan Islam. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Kapal Ertogrul. Sebuah kapal Turki karam di perairan Jepang. Dari 600 (enam ratus) penumpang, hanya 69 (enam puluh sembilan) yang selamat. Pemerintah maupun rakyat Jepang bersama-sama berusaha menolong para penumpang yang selamat dan mengadakan upacara penghormatan bagi arwah penumpang yang meninggal dunia. Mereka yang selamat, akhirnya dapat kembali ke negara mereka berkat sumbangan yang berhasil dikumpulkan dari seluruh rakyat Jepang. Peristiwa ini menjadi pencetus dikirimnya utusan pemerintah Turki ke Jepang pada tahun 1891 (seribu delapan ratus sembilan puluh satu). Hubungan yang sangat baik dengan Turki ini, juga membawa kemenangan bagi Jepang dalam peperangan dengan Rusia yang dimulai pada tahun 1904 (seribu sembilan ratus empat). Dikatakan, pada saat armada kapal kekaisaran Rusia melintasi laut Baltik, Turki memberitahukan hal tersebut kepada Jepang, dan karena itu, Jepang meraih kemenangannya. Setelah peristiwa tersebut, yaitu sekitar tahun 1900-an, untuk pertama kalinya warga muslim Jepang pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Sejak saat itu, Islam mulai dikenal secara luas.."]

Hubungan baik antara Turki dan Jepang ini tampaknya berlanjut hingga sekarang. Orang Turki merupakan salah satu orang orang asing yang cukup banyak dijumpai di negara ini. Kemudian tahun 1955, beberapa ulama dari Pakistan datang ke Jepang dan berdakwah di sejumlah kota besar, membuat agama Islam mulai dikenal lebih luas di Jepang..


Mesjid di Jepang

Di negara jepang saat ini terdapat ratusan buah mesjid dengan jumlah terbanyak terletak di daerah Tokyo. Mesjid tertua di Jepang adalah mesjid Kobe yang didirikan tahun 1928 oleh pedagang dari India, sedangkan mesjid tertua di Tokyo adalah Masjid Jamii yang dibangun tahun 1938 didirikan oleh orang Turki dengan mendapat sokongan penuh pemerintahnya. (sumber : wikipedia). Mesjid terbaru sekarang adalah Mesjid Gifu, propinsi Aichi, yang terkenal dengan industri otomotifnya. "Proyek pembangunan masjid ini menelan biaya sebesar 129 juta yen atau setara 1,1 juta dolar AS" (sumber : berita antara). Dari segi fisik, mesjid yang ada di Jepang hampir tidak ada perbedaannya dengan mesjid yang banyak dijumpai di tanah air. Karena membuat keributan dan kebisingan adalah dilarang di negara tersebut, maka praktis suara azan hanya terdengar di dalam ruangan mesjid saja. Hal ini mungkin adalah salah satu perbedaan paling utama kalau dibandingkan dengan kondisi mesjid di Indonesia.


Tokoh, mualaf dan organisai Islam di Jepang

Siapakah orang Jepang pertama yang memeluk Islam ? Sejumlah nama yang bisa dicatat adalah : Torajiro Yamada (tanpa catatan tahun), Mitsutaro Takaoka tahun 1909 yang kemudian berganti nama menjadi Omar Yamaoka, kemudian Bunpachiro Ariga (1946) yang kemudian berganti nama menjadi Ahmad Ariga, seorang pedagang yang mendapat pengaruh Islam dalam perjalanannya ke India. Kemudian ada lagi nama Hilal Yamada Torajiro (1957), Nurullah Tanaka Ippei (1934) dll. "Orang Jepang muslim yang naik haji pertama kali adalah Haji Kataro Yamaoka". (sumber : berita antara).

Tahun 1953 organisasi muslim pertama (Japan Muslim Association) berdiri di bawah pimpinan Sadiq Imaizumi dengan jumlah anggota sebanyak 65 orang .


Jumlah penganut Islam di Jepang

Ini merupakan bagian yang paling sulit untuk dijawab karena tidak catatan atau penghitungan resmi tentang hal ini. Agama adalah urusan pribadi jadi pemerintah tidak akan ikut campur di dalamnya. Sensus, angket atau pertanyaan tentang agama yang dilakukan oleh badan resmi negara dipastikan tidak akan pernah ada. Hampir kebanyakan tulisan yang membahas tentang Islam di Jepang menuliskan angka yang nyaris seragam yaitu berkisar antara 70.000 s/d 100.000. Sumber dari Islamic Center di Tokyo Jepang memberikan perkiraan angka yang sedikit lebih besar yaitu 70.000 s/d 200.000 orang.

Dari jumlah tersebut, berapa orangkah yang merupakan penduduk pribumi atau orang Jepang asli ?
Sepertinya Anda akan mendapatkan jawaban yang sangat bervariasi :

  1. Menurut Michael Penn, "Islam in Japan: Adversity and Diversity," Harvard Asia Quarterly, Vol. 10, No. 1, Winter 2006. menyebutkan bahwa sebagian besar umat Islam di Jepang (90%) adalah pendatang., sedangkan penduduk asli Jepang sendiri yang memeluk Islam diperkirakan tidak lebih dari 10%. ( Sumber : Wikipedia : Islam in Japan ) Jadi kalau perkiraan ini benar maka jumlah pemeluk Islam yang berasal dari penduduk asli adalah sekitar 7.000-20.000 orang.
     
  2. Menurut Direktur Jenderal Institute of Developing Economic (IDE), Dr Sadashi Fukuda memperkirakan jumlahnya sekitar 10.000 orang. Kosei Morimoto, Ph.D menyebut kisaran angka 12.000 s/d 15.000. orang. Asisten Sekretaris Pres Direktur Devisi Pers Internasional Mentri Luar Jepang, Chiba Akira memperkirakan hanya sekitar 5.000-an. Tapi Imam Masjid Kobe, Mohsen Shaker, yakin jumlah umat Islam di seluruh Jepang, mencapai 20.000-an. "Bahkan mungkin lebih," tandasnya. (Sumber : Harian Pagi Fajar, Makasar : Warna-Warni Kehidupan Beragama di Jepang)
     
  3. Menurut Hassan Ko Nakata, proffesor dan guru besar tentang study Islam mengatakan "Di Jepang tidak ada organisasi tunggal untuk Muslim Jepang. Juga tidak ada angka pasti berapa sebenarnya jumlah Muslim di Jepang. Tapi angka perkiraannya sekitar 70.000. Jumlah terbesar adalah Muslim dari Indonesia, sekitar 20.000 orang. Muslim asli Jepang sendiri diperkirakan hanya 7.000 orang dimana kebanyakan dari mereka masuk Islam melalui pernikahan dengan pasangan Muslim dari luar Jepang. Dari jumlah itu, hanya sekitar 500 orang yang terorganisasi di bawah Japan Muslim Association, sebuah organisasi Islam terbesar dan tertua di Jepang. Jadi, Muslim Jepang benar-benar minoritas mutlak. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Jepang nyaris tak terperhatikan dan diabaikan. Situasinya sama ketika kita berbicara tentang studi Islam di Jepang. Ahli Islam masih sangat sedikit . . . ". Di bagian lain beliau juga mengatakan bahwa tokoh Islam (penduduk asli) sebelumnya, hampir sebagian besar tidak meninggalkan keturunan.
     
  4. Dari websitenya Bapak Ishizawa Takeshi menyebutkan : "Menurut Shukyo Nenkan (Almanak Agama) diterbit dari Departmen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang yang versi tahun 1996, jumlahnya pemeluk Islam adalah Islamic Center Japan : 2600 orang, Japan Muslim association: 120 orang"
     
  5. Berikut saya kutipkan sebagian dari artikel yang berjudul "Islam di Jepang, sebuah perjalanan panjang". Ditulis oleh Kartika Lestari dan dimuat di site PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang) :
    "Walaupun banyak organisasi Islam yang didirikan sejak tahun 1900-an, masing-masing hanya memiliki sedikit anggota yang aktif. Tidak ada estimasi yang dapat dipercaya (akurat) tentang populasi Muslim Jepang. Data yang menyatakan bahwa jumlah total Muslim Jepang adalah 30.000 orang terlalu dilebih-lebihkan. Beberapa orang menyatakan bahwa jumlah total populasi Muslim Jepang sebanyak hanya ada beberapa ratus orang. Mungkin ini merupakan jumlah Muslim Jepang yang benar-benar mempraktekkan Islam. Ketika diminta untuk memberikan estimasi mengenai jumlah Muslim Jepang yang sebenarnya, Abu Bakar Marimoto mengatakan bahwa total jumlah mereka seluruhnya seribu orang, jika kita tidak melakukan pengecualian terhadap mereka yang masuk Islam karena pernikahan dan mereka yang tidak mempraktekkan Islam dengan sungguh-sungguh, mungkin jumlahnya mencapai beberapa ribu orang."

Jadi pertanyaan awal yaitu jumlah penduduk muslim di Jepang baik imigran maupun penduduk penduduk pribumi, tampaknya sampai tulisan ini saya buat belum ada satupun site atau sumber yang bisa memberikan data yang lebih pasti. Semua jawaban yang ada hanyalah angka estimasi atau perkiraan saja yang besarnya bervariasi tergantung nara sumber dan site rujukan. Pengurus Islamic Center di Jepang sepertinya memberikan penjelasan yang paling tepat "Jawabanya sangat tergantung dari pihak mana yang Anda tanya".

Banyak tulisan yang menyebutkan (sumber tidak dicatat) bahwa pada tahun tahun belakangan ini perkembangan agama Islam yang sangat pesat di Jepang dan tiap tahun ratusan bahkan ribuan orang Jepang beralih memeluk Islam. Jadi kalau info yang ditulis adalah benar sepertinya data yang ada sekarang sudah tidak akurat lagi dan harus di revisi karena data angka yang ditulis saat ini sepertinya nyaris tidak ada perubahan sama sekali dari tahun ke tahun.


Sebaran penduduk muslim di Jepang

Kebanyakan dari pendatang umat muslim yang ada sekarang tinggal dan tersebar di banyak tempat namun umumnya terkonstrasi di kota besar seperti Tokyo, Nagoya, Osaka, Hirosima, Kobe serta wilayah lainya yamg memiliki komplek industri seperti Hamamatsu atau komplek peternakan seperti Hokkaido. Profesi mereka umumnya beragam namun kebanyakan adalah pelajar dan tenaga kerja magang atau trainee. Jadi sampai saat ini tempat kota ataupun desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam belum ditemukan. China dan Korean Town bisa ditemukan di beberapa tempat namun Arabian Town atau Indonesia Town dan sejenisnya belum pernah ada.

Yang menarik dan perlu dicatat disini adalah kebanyakan dari penduduk muslim di Jepang ternyata diperkirakan sebagian besar berasal dari Indonesia yaitu sekitar 20.000 an (sumber lihat di atas). Angka ini sepertinya masuk akal karena kalau kita bandingkan dengan catatan dari kedutaan besar Jepang di Jakarta menyebutkan bahwa jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang : 23.890 per Desember 2004.


Masa keemasan Islam di Jepang

Setelah perang dunia kedua, perkembangan Islam di Jepang mulai mencapai masa keemasan karena diberitakan saat itu banyak tentara yang bertugas di negara lain yang memeluk Islam dan kemudian mendirikan organisasi agama serta menyebarkannya agama barunya itu ke masyarakat luas. Kemudian pada setelah terjadinya krisis minyak tahun 1973, karena perhatian Jepang mulai beralih ke negara negara penghasil minyak yang sebagian besar adalah negara arab.. Kemudian ada juga sumber lain yang menambahkan keterangan sedikit berbeda yaitu perkembangan Islam di Jepang juga menunjukkan kenaikan setelah peristiwa 11 September 2001, serta setelah perang teluk. yang berakhir dengan dikuasainya Irak oleh pasukan Amerika. Pendapat menarik lanya mengatakan bahwa saat inilah perkembangan Islam mencapai puncaknya karena tiap hari mesjid dilaporkan tidak pernah sepi dari kunjungan orang Jepang yaitu sekitar 50 orang perhari yang ingin berpindah memeluk agama Islam baik karena pernikahan ataupun karena kesadaran sendiri. (Sumber lengkap tidak dicatat)


Masa suram Islam di Jepang

Perkembangan Islam di Jepang juga pernah mempunyai masa suram atau menjadi sorotan karena beberapa kasus seperti pembunuhan Hitoshi Igarashi tanggal 11July 1991di areal ruang kerjanya yaitu di Universitas Tsukuba Ibaraki. Beliau adalah seorang dosen bidang Study Islam yang menerjemahkan buku Ayat Ayat Setan. Kasus ini mendapat sorotan yang luas dan melibatkan investigasi besar besaran namun pelakunya tidak tertangkap sampai kasusnya ditutup pada tanggal 11July 2006. Menurut undang undang di Jepang kasus kriminal dianggap selesai dan kasusnya akan ditutup setelah melewati waktu 15 tahun. Kasusnya bisa dibaca disini

Kemudian kasus lainya yang paling terkenal adalah adalah peristiwa serangan 11 September 2001 yang menyebabkan 24 orang Jepang tewas. Kasus ini cukup unik sekaligus juga membingungkan khususnya dalam hubungannya dengan Islam di Jepang. Beberapa site menyebutkan setelah peristiwa 11 September 2001, memicu banyak orang Jepang yang memeluk Islam, namun sebagaian kecil lagi memberikan agrumen yang sebaliknya, jadi agar tidak menimbulkan perdebatan rasanya cukup adil kalau saya tulis keduanya. Di sub ini saya memakai sumber dari koran online The Japan Times

Kemudian kekerasan yang dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu di beberapa tempat yang mengatasnamakan agama sampai pembunuhan dan penyandraan petugas sosial warga Jepang di beberapa negara seperti kasus di Kazuya Ito tenaga sukarelawan proyek irigasi yang terbunuh di Afganistan tahun 2008, membuat sebagian orang Jepang menjadi menjadi semakin memandang curiga pada kegiatan yang berbau agama.

Sebenarnya jauh sebelum itu yaitu sejak kasus serangan gas sarin oleh kelompok agama Aum Shinrikyo bulan March 1995, masyarakat Jepang sudah cukup alergi dengan kegiatan atau kelompok yang berbau agama jadi setelah beberapa kasus lain yang muncul kemudian seakan menambah panjang daftar kecurigaan tersebut. Walaupun kasus terakhir dan juga kasus lainya sama sekali tidak berkaitan dengan Islam namun bagi mereka (sepertinya) adalah sama saja. Kebanyakan orang Jepang cendrung memandang negatif pada kelompok atau group yang berbau agama. Jadi untuk mengubah stereotip miring semacam ini tentu membutuhkan usaha dan waktu yang tidak singkat.


Toleransi kehehidupan beragama

Salah satu sebab agama Islam bisa berkembang pesat di Jepang adalah karena bagusnya iklim tolerensi yang ada di masyarakat di negara ini dan jaminan dari pemerintah sendiri tentang kebebasan beragama. Pemerintah sendiri sama sekali tidak ikut campur dalam masalah agama dan agama dianggap tidak lebih dari sekedar budaya semata. Banguan tempat ibadah baru misalnya cukup banyak berdiri di berbagai tempat. Hal ini sepertinya kontradiktif dengan tempat ibadah Shinto atau Buddha yang nyaris "dibatasi" sehingga areal pemukiman ataupun kota baru, tempat ibadah kedua agama itu nyaris tidak akan kita temukan. Tempat ibadah yang ada sekarang dianggap sudah lebih dari cukup sehingga dirasa tidak perlu didirikan tempat ibadah baru lagi.

Toleransi penduduk asli terhadap kepercayaan atau agama baru cukup tinggi seperti halnya untuk kasus saya sendiri, pada setiap jamuan makan selalu akan ditanyakan terlebih dahulu apakah berpantang terhadap daging tertentu atau minuman beralkohol, begitu mengetahui saya berasal dari negara muslim yaitu Indonesia. Di forum site ini adalah salah satu contoh menarik bagaimana konsern-nya mereka terhadap kepercayaan orang lain. Tentu saja mereka yang berkelakuan sebaliknya pasti juga ada dan hal ini sepertinya berlaku di mana saja. Jadi dalam hal ini saya hanya menulis secara umum dan juga sebatas yang saya lihat di sekitar lingkungan sendiri.

"Kebebasan beragama yang telah dinikmati oleh masyarakat Jepang selama ini, punya andil yang cukup besar bagi diterimanya Islam di Jepang. Masyarakat Jepang dengan bebas dapat memeluk Islam sebagai agama. Lebih dari, kondisi masyarkat Jepang yang cukup toleran dan lebih mengutamakan akal dan logika lebih memudahkan mereka menerima kebenarna Islam yang ajarannya memang tidak bertentangan dengan akal sehat. Karena berpikir logis itu pula yang menjadikan masyarakat Jepang tidak terpengaruh dengan isu terorisme Islam yang sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu."
(dikutip dari : Republika : Islam berkembang pesat di Jepang )

Berikut ini saya kutipkan lagi artikel seorang Indonesia yang pernah berkunjung ke Jepang :
"Saya sempat berkunjung ke sebuah perpustakaan swasta, Toyo Bunko atau Oriental Library, yang didirikan dan dibiayai oleh keluarga perusahaan besar, Mitsubishi. Perpustakaan ini mempunyai koleksi ratusan ribu buku tentang kebudayaan timur dalam pelbagai bahasa. Saya diajak keliling oleh Direktur Riset, Prof. Tsugitaka Sato, ke seluruh ruangan perpustakaan, melihat koleksi ratusan ribu buku dan manuskrip tua yang menakjubkan. Prof. Sato menghadiahkan sebuah buku yang baru ditulisnya, tentang sosok seorang wali besar dari Asia Tengah, yaitu Ibrahim b. Adham. Sayang sekali, saya tidak paham bahasa Jepang sehingga tak bisa menikmatinya. Bagi anak-anak pesantren, sudah tentu tokoh Ibrahim b. Adham ini sangat dikenal. Saya benar-benar kaget, ternyata tradisi kajian Islam di Jepang cukup berkembang dengan baik dan kukuh. Inilah yang menjelaskan kenapa muncul beberapa sarjana Islam Jepang dalam tingkatan yang sejajar dengan para sarjana Islam di Barat, seperti Pro. Toshihiko Izutsu atau Sachiko Murata, pengarang buku The Tao of Islam yang terkenal itu" (
dikutip dari : http://islamlib.com/id/artikel/berbahasa-arab-di-jepang/ )


Kedala umat Islam di Jepang saat ini

Beberapa sumber yang pernah saya baca menyebutkan bahwa kesulitan terbesar umat Islam di Jepang adalah kurangnya tempat ibadah karena kebanyakan mesjid yang ada sangat jauh dari tempat tinggal atau tempat mereka bekerja. Kemudian kurangnya penceramah agama yang berkualitas dan mampu mengusasi bahasa Jepang sehingga penyebaran agama Islam di Jepang menjadi kurang marak. Disamping itu kebanyakan mesjid juga disebutkan kekurangan imam adalah merupakan kendala terbesar perkembangan Islam di Jepang saat ini. Jadi bagi mereka yang berminat menjadi atau berprofesi sebagai seorang penyebar agama Islam di negara lain, mungkin Jepang adalah tempat yang cukup bagus untuk di pertimbangkan. Sedangkan masalah makanan halal sama sekali tidak dianggap masalah serius karena makanan jenis ini relatif mudah ditemukan.

Sedangkan pendapat dari saya sendiri menganggap bahwa kesulitan terbesar dari orang Islam di Jepang adalah masalah pemakaman. Setahu saya dari informasi beberapa rekan menyebutkan bahwa tempat pemakaman khusus umat Islam saat ini cuma ada di tiga tempat saja dan relatif sempit karena masing masing hanya mampu menampung sekitar seratus atau seribuan makam saja. Jadi kalau mengacu dari tulisan di beberapa site yang menyebutkan perkembangan Islam yang sangat pesat di Jepang, tentu dalam beberapa tahun lagi masalah pemakaman akan menjadi sesuatu yang sangat pelik. Jumlah atau luas kuburan yang ada menurut saya setidaknya juga bisa dijadikan indikasi awal jumlah populasi penduduk muslim di negara tersebut.

Saat ini pemakaman tradisional atau konvensional, dalam arti ditanam sudah hampir tidak tidak dilakukan lagi. Menurut statistik tahun 2005, 99.82% menggunakan cara kremasi. Pemakaman kremasi dilakukan bukan karena alasan agama namun lebih banyak karena alasan biaya, masalah sanitasi dan keterbatasan lahan. (baca : Sejarah pemakaman kremasi di Jepang ) Bagian ini sepertinya nyaris luput dari perhatian banyak orang dan sangat jarang untuk ditulis. Kemudian kendala lain seperti kultur masyarakat Jepang yang tidak terlalu peduli dengan agama, pandangan sebagian orang yang memandang negatif pada kelompok agama dll membuat perkembangan agama apapun menjadi sangat tidak mudah di negara tersebut.

Demikian sekilas tentang perkembangan agama Islam di Jepang. Segala kesalahan bahasa, data dan hal lainya mohon dimaafkan.

Ditulis oleh : nyoman ardika

Osaka, December 2006
Direvisi kembali tanggal : 15 Agustus 2009, 22 Agustus 2009

Semoga bermanfaat. Segala kesalahan mohon dimaafkan.

 

Refferensi :

http://www.asiaquarterly.com/content/view/168/

http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Japan
http://www.pmij.org/index.php/content/view/198/
http://www.antara.co.id/view/?i=1217211080&c=INT&s=
http://www.republika.co.id/berita/55326/Islam_Berkembang_Pesat_di_Jepang
http://www.suaramedia.com/sejarah-islam/masuknya-cahaya-islam-ke-negri-sakura.html
http://www.id.emb-japan.go.jp/spmins.html
http://cetak.fajar.co.id/news.php?newsid=26281


top page

Keluhan, tambahan info, saran, komentar dll silakan : klik disini