Halaman Renungan


I N D E X
Philosophy uang gaya Jepang
Buku dan perpusatakan
Umur dan harapan Hidup
Gila Bersih Bersih
Orang Tua dan Aktivitasnya

Uang dan Philosophy-nya
Cara pandang orang Jepang terhadap uang


Pengemis dan peminta minta adalah hal umum dijumpai di kota besar manapun, terlebih di negara kita sendiri, namun orang jepang boleh bangga karena karena negara ini bisa dikatakan ( hampir ) bersih dari masalah ini. Kasus korupsi juga bisa dikatakan sangat langka atau setidaknya bukan dilakukan secara masal dan terang terangan. Kunci utamanya menurut saya mungkin adalah masalah cara pandang mereka terhadap uang yang kadang menurut kita mungkin keterlaluan. Misalnya uang hanya bisa didapat dengan kerja, bukan dengan jalan meminta atau menangadahkan tangan dan bahkan anda mungkin tidak percaya kalau saya bilang tinggal di rumah sendiripun harus bayar . . . . . .baca sedikit lagi


Buku dan perpustakaan

Orang jepang tampaknya tidak bisa dipisahkan dengan buku. Sebuah buku kecil umum di bawa oleh kebanyakan orang untuk dibaca sebagai pengisi waktu luang, di taman, ketika mengunggu, di dalam bus bahkan juga di dalam kereta api yang penuh penumpang sekalipun. Toilet ruamah tanggapun sering dilengkapi dengan buku. Hampir semua daerah mempunyai perpusatakaanya sediri sendiri. Koleksi bukunya cukup banyak dan beragam, tua namun sangat terawat. Untuk koleksi buku yang lebih lengkap atau buku berbahsa asing, kita harus mendatangi perpustakaan pusat.

Untuk memudahkan pencarian, tersedia banyak komputer yang harus kita pencet sendiri. Buku yang tidak ada, bahkan bisa kita request. Setiap orang bisa meminjam 5 judul buku selama dua minggu. Jumlah maksimum yang terlalu banyak menurut saya namun tidak untuk orang jepang. Disamping meja besar yang bisa digunakan oleh banyak orang, tersedia juga meja belajar tersendiri, yang ada penyekat dan lampu belajarnya masing masing, mirip suasana belajar di kamar sendiri. Meja belajar khusus ini tersedia dalam jumlah yang amat banyak, bahkan puluhan dan selalu penuh, apalagi di musim liburan anak sekolahan jadi datang pagi pagi sebelum perpustakaan buka, adalah cara yang paling aman. Namun tidak jarang antrean sudah sangat panjang ketika kita sampai yang berarti harus datang lebih pagi lagi.

Di musim panas atau musim dingin, perpustakaan andalah tempat yang nyaman dan murah untuk belajar sekaligus berhemat AC dan mesin pemanas di rumah. Selain perpustakaan, toko buku juga bisa dijumpai di banyak tempat dengan mudah. Toko buku bekas juga cukup banyak dengan harga yang hampir setengahnya, karena kebanyakan orang jepang cendrung menjualnya kembali dengan alasan tidak punya tempat untuk menyimpan.
Alasan lain yang kadang kedengarannya sangat mulia adalah, agar bisa dibaca oleh orang lain lebih banyak dan murah, dari pada disimpan sendiri. Luasnya pengetahuan seseorang juga kadang bisa dinilai dari berapa banyaknya judul buku yang dibacanya pertahun.

Hampir semua pengetahuan luar, buku best seler dari negara lain dan buku asing penting lainya bisa didapatkan disini, tentunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa jepang, bahasa satu satunya yang dimengerti oleh kebanyakan orang disini. Bahkan yang mungkin menarik adalah buku tentang batik atau tentang Indenesia lainya tampaknya lebih mudah didapatkan disini dari pada di Indonesia.
Aneh bukan ?

[Oketo] Nagoya 2007


Umur dan harapan hidup

Harapan hidup orang jepang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data terakhir menyebutkan bahwa rata rata umur orang jepang adalah 82.02 tahun dengan perincian laki laki 78.67 sedankan wanita 85.56 years (2007 est.). Kesadaran banyak orang akan hidup sehat, kemajuan kedokteran dan ilmu kesehatan, pengetahuan yang semakin berkembang mungkin adalah salah satu penyebabnya.

Sedangkan dilain sisi, jumlah anak yang lahir terus menurun dari tahun ke tahun, tentu akan menyebabkan jumlah populasi orang usia lanjut dan anak anak menjadi tidak seimbang. Saya sering merasa, tampaknya di negara ini jauh lebih mudah menemukan orang usia lanjut dari pada anak kecil [oketo]


Gila bersih-bersih

Di suatu hari, saya melihat orang tua yang sedang menyapu di jalan tengah malam sendirian. Gerakannya tampak cukup cepat untuk orang seumurnya, tapi tetap saja terasa lambat untuk ukuran pekerja di Jepang.

Jangan salah, kakek itu bukanlah petugas kebersihan, walaupun memakai pakaian seragam kerja lapangan, seperti layaknya petugas kebersihan lainnya (minus tanda pengenal) namun aktivitas pengisi waktu sebelum tidur. Mereka adalah golongan orang tua yang gila bersih bersih dan tampaknya bukan hal yang aneh di sini. Yang lebih mengagumkan, dulu hampir tiap hari (kecuali hujan) saya bertemu dengan seorang kakek, dengan kantong plastik bening dan sarung tangan sedang mengumpulkan sampah dan plastik di sepanjang jalan di pagi buta. Menurut informasi, beliau sudah melakukannyua selama bertahun tahun dan sudah merupakan aktivitas pagi harinya. Amazing ! Golongan ini bisa dikatakan tidak sedikit, walaupun tidak samapi "segila" si kakek di atas.

Di setiap pemerintahan daerah stempat selalu tersedia lowongan untuk kelompok sukarelawan yang salah satunya adalah petugas kebersihan khususnya penyapu jalan. Jam, waktu dan hari bisa dipilih secara bebas. Semuanya tentu saja tidak ada bayarannya sama sekali, cuma ada sapu, kantong plastik dan seragam tanpa nama. Sampah yang sudah terkumpul dimasukkan di kantong plastik dan selanjutnya adalah tugas dari petugas resmi yang mengangkutnya. Hal ini baru saya ketahui belakangan. Pantasan, saya dulu juga sedikit heran, mereka bekerja pelan dan lambat sekali dan sering lebih banyak istirahatnya. Ternyata mereka bekerja tidak dibayar sama sekali.

Jepang selain boleh bangga dengan kemajuan teknologinya, boleh juga berbangga dengan "warga gilanya", termasuk juga golongan gila kerja dan gila positif lainnya. [ Oketo ]



Orang tua dan aktivitasnya

Suatau hari saya melihat sekelompok orang yang sedang berjalan rapi beriringan di tepi jalan. Di setiap orang, tampak menenteng kamera dan penyangga segi tiga dan sebuah tas punggung. Tentu sudah bisa ditebak kalau mereka adalah serombongan klub penggemar photography. Ketika saya perhatikan lebih dekat tampak sesuatu hal yang menarik, karena beberapa orang diantara mereka adalah orang yang sudah sangat berumur, bahkan seorang diantaranya berjalan sambil menyeret tas kecil yang berisi sekotak obat obatan, plus slang oksigen (?) yang melingkar dan tersambung di hidungnya ! Mereka tampak memasuki stasiun kereta api terdekat dan pergi mengambil photo di suatu tempat entah dimana. Kadang saya sedikit meragukan apakah beliau cukup kuat mengangkat kamera dan matanya juga cukup jelas mengintip melalui viewvinder (lubang pembidik) kamera ?

Disamping klub photography, ada juga klub menggambar, merangkai bunga, seni menuang teh, bahkan juga klub dansa yang anggotanya lagi lagi adalah orang lanjut usia. Tampaknya usia tua tidaklah menghalangai mereka untuk belajar atau beraktivitas. Disaat sang anak sudah mandiri kadang dianggap saat yang bagus untuk memulai melakukan apa yang sebelumnya tertunda. Dari beragam aktivitas di atas, yang paling umum adalah kelompok hikking, aktivitas jalan kaki mengunjungi alam terbuka. Kegiatan ini tampak semakin ramai dilakukan ketika awal musim dingin, disaat daun mulai berubah warna kuning dan kemerahan, awal musim bunga sakura, dan musim panas. Keberadaan mereka mudah ditebak, topi lebar, tas punggung, peta dan petunjuk jalan. Mereka tampak sedikit ribut dan kegirangan, seperti layaknya wisata anak TK.

Bagaimana dengan situasi orang tua di negara kita ? Aktivitas apakah yang akan kita l

akukan di hari tua nanti ? Walaupun pertanyaan kedua tampaknya terlalu dini namun tampaknya tidak ada salahnya direnungkan. [oketo]


 

 

 


hit counter script